RSS

Kenapa Ada di Sini…?

30 Dec

Bayangkan sebutir gandum tergeletak di lantai gudang penyimpanan… Jatuh saat karung-karung gandum ditumpuk, lantas terkena sepakan kuli2 angkut yang beranjak pulang sore hari, terlempar ke sana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela2 tegel… Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan ember kering persis di atasnya. Sempurna sudah melindungi butir gandum itu dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi. Tidak tampias meski setetes air seppuluh tahun terakhir…

 

Kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujannya. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, basahlah dia… Kalau ditentukan kering, keringlah dia… Begitulah kehidupan… Robek tidaknya sehelai daun di hutan yang paling tersembunyi semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh, semua sudah ditentukan…

 

Kalau urusan sekecil itu saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan… Bagi binatang, tumbuhan dan benda mati, kehidupan adalah sebab akibat… Mereka hanya menjalani hukum alam yang sudah ditentukan… Setandan buah pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari., seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasar hangat dinginnya suhu induk mengerami… Tidak ada yang melanggar aturan main itu. Tidak ada buah pisang yang masak lebih cepat. Bunga melati yang layu lebih lama. Atau anak buaya yang menjadi pejantan padahal suhu udara induk mengeraminya memastikannya menjadi betina. Hukum alam. Sebab akibat.

 

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat, bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus ke berapa, kembali lagi ke kehidupanmu… Saling memengaruhi, saling berinteraksi… Kalau dilukiskan pasti seperti bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar…

 

Sayangnya tidak semua orang beruntung mengetahui sebab-akibat dari setiap kejadian yang dihadapinya… Tidak banyak yang tahu apa sebab-akibat dari setiap keputusan hidup yang akan diambilnya. Apa sebab-akibat dari kehidupan yang mungkin dia pikir selama ini biasa-biasa saja, tidak berguna, atau menyakitkan malah…

 

Terkadang sesuatu yang sederhana, bisa mengakibatkan sesuatu yang luar biasa besar… Bayangkan dulu ada seorang Arab renta, sakit2an. Selama 80 tahun Arab itu tinggal di oase gurun. Kehidupan Oase yang biasa2 saja. Bahkan baginya sama sekali tidak berguna. Berkali2 dia bbertanya pada dirinya sendiri buat apa hidupnya begitu panjang kalau hanya untuk terjebak di oase itu. Saat oase mulai mengering, saat orang mulai pindah, justru dia memaksa bertahan… Suatu hari rombongan karavan melintas di puing2 oase yg mengering. Mereka tiba persis saat Arab tua meninggal di rumah kecilnya. Hingga maut menjemputnya Arab tua tidak tahu apa sebab akibat hidupnya… Karavan itu tidak peduli, meneruskan perjalanan setelah mengisi penuh2 tempat air. Hanya satu yang peduli. Orang itu berbaik hati menguburkan Arab tua itu. Orang yang berbaik hati melanjutkan perjalanan keesokan harinya, menemukan bangkai dan sisa2 pertempuran karavan  dengan kawanan bandit yang menguasai gurun. Mereka dibantai. Hanya orang yang berbaik hati itulah yang selamat. Lima generasi berikutnya, dari orang yang berbaik hati itu ternyata lahir seorang manusia pilihan. Manusia pilihan yang kelak orang2 menyebutnya al-amin… Bukankah kita tidak tau apa yg akan terjadi kalau Arab tua itu tidak meninggal hari itu bukan? Orang baik itu juga akan ikut terbantai. Apakah yang akan terjadi generasi kelima keturunannya kalau Arab tua itu tidak tinggal menyesali diri di Oase. Bagaimana dengan nasib pembawa risalah itu?

 

Apakah cerita ini benar terjadi? Tentu saja tidak. Tapi mungkin saja, bukan? Tidak ada yang tau. Dari ketidak tahuan itu, setidaknya bisa dibayangkan betapa hebatnya penjelasan sebab-akibat seharusnya bisa menuntun seseorang untuk selalu berbuat baik. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia2 dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian2 menyakitkan, kejadian2 menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai satu siklus bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab akibat bagi orang lain. Dia akan berharap perbuatannya berakibat baik ke orang lain.

 

#adapted from: “Rembulan Tenggelam di Wajahmu-Tere Liye”

 
Leave a comment

Posted by on 30 December 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: